Ketua Program Studi Sistem Informasi Soegijapranata Catholic University Dr. Albertus Dwiyoga Widiantoro (Yoga) mengikuti National Multiplication Training (NMT) LEAP 2026 tahap kedua yang diselenggarakan di Solo pada 10–13 Agustus 2026. Program ini diikuti oleh 25 pimpinan perguruan tinggi terpilih dari berbagai wilayah di Indonesia.
NMT LEAP 2026 merupakan program penguatan kepemimpinan perguruan tinggi yang diselenggarakan melalui kolaborasi Petra Christian University dan Universitas Surabaya (Ubaya). Program ini memperoleh dukungan dari German Academic Exchange Service (DAAD) melalui inisiatif Dialogue on Innovative Higher Education Strategies (DIES), serta didukung oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi. Kolaborasi tersebut menunjukkan pentingnya sinergi antarlembaga dalam membangun kepemimpinan pendidikan tinggi yang tangguh, inovatif, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Tahap kedua NMT LEAP 2026 berfokus pada pelaksanaan Project Action Plan (PAP) yang telah disusun oleh peserta pada tahap sebelumnya. Para pimpinan perguruan tinggi mendiskusikan strategi untuk mengubah rencana kepemimpinan menjadi langkah nyata di institusi masing-masing. Kegiatan juga mencakup penguatan kolaborasi strategis, pembahasan keberlanjutan program, serta pengelolaan ketahanan finansial perguruan tinggi dalam situasi yang penuh ketidakpastian.
Selain itu, peserta memperoleh materi mengenai kepemimpinan adaptif dan manajemen konflik. Kedua topik ini penting karena pemimpin perguruan tinggi tidak hanya dituntut mampu merancang kebijakan, tetapi juga membangun komunikasi, mengelola perbedaan kepentingan, dan mengarahkan perubahan secara kolaboratif. Melalui sesi peer consulting, peserta saling berbagi tantangan, pengalaman, dan praktik baik dalam memimpin institusinya.
Salah satu agenda utama kegiatan adalah pembelajaran kepemimpinan bersama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara X. Dalam sesi bertema “Membangun Generasi Emas: Berakar pada Tradisi, Melangkah Maju dengan Inovasi Pendidikan”, peserta diajak memahami bahwa inovasi tidak harus menghilangkan nilai dan identitas yang telah menjadi fondasi institusi. Pengalaman Mangkunegara X dalam merawat tradisi sekaligus membangun relevansi bagi generasi muda menjadi inspirasi bagi pimpinan perguruan tinggi dalam menghadapi perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial, serta perubahan karakter dan kebutuhan mahasiswa.

Dalam kegiatan ini, peserta memperoleh wawasan mengenai tantangan transformasi universitas, ketahanan keuangan institusi, strategi riset global, serta keberlanjutan dalam pendidikan tinggi antara lain:
Materi “Challenges for Universities” menekankan bahwa perguruan tinggi perlu merespons perubahan cepat akibat kecerdasan artifisial, perubahan dunia kerja, keragaman karakteristik mahasiswa, risiko keamanan digital, dinamika internasionalisasi, dan tuntutan regulasi. Perguruan tinggi perlu memperbarui asesmen menuju tugas yang autentik, berbasis proyek, portofolio proses, dan ujian lisan. Pembelajaran juga perlu bergeser dari sekadar penyampaian materi menjadi desain pembelajaran aktif, adaptif, berbasis kompetensi, dan relevan dengan kebutuhan masa depan.
Melalui materi “No Margin, No Mission”, peserta diajak memahami bahwa perguruan tinggi nirlaba tetap memerlukan kondisi keuangan yang sehat agar dapat menjalankan misinya secara berkelanjutan. Surplus keuangan diperlukan untuk mendukung inovasi, investasi, pengembangan program, serta peningkatan layanan pendidikan. Pemimpin perguruan tinggi perlu memahami sumber pendapatan, struktur biaya tetap dan variabel, laporan keuangan, serta indikator kesehatan keuangan sebagai dasar pengambilan keputusan strategis.
Materi “Global Research, Policy, and International Collaboration” membahas pentingnya membangun riset yang tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga memberi dampak bagi masyarakat, industri, dan kebijakan. Peserta diperkenalkan pada strategi membangun konsorsium lintas disiplin dan lintas negara, perencanaan diseminasi, komunikasi, hilirisasi hasil riset, serta pemanfaatan jejaring dan peluang pendanaan internasional. Platform seperti CORDIS, Horizon Europe, EU Funding & Tenders Portal, dan EURAXESS dapat dimanfaatkan untuk memetakan mitra, proyek, pendanaan, serta peluang mobilitas peneliti.
Sementara itu, materi “Sustainability in Higher Education” menegaskan peran universitas dalam membangun pengetahuan, keterampilan, kesadaran, dan pemberdayaan mahasiswa terkait pembangunan berkelanjutan. Keberlanjutan perlu diintegrasikan dalam kurikulum, pembelajaran lintas disiplin, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan tata kelola kampus. Institusi juga perlu memberi contoh melalui pengelolaan energi, bangunan, transportasi, pengadaan, konsumsi, pelaporan keberlanjutan, serta pengurangan jejak karbon.

Keikutsertaan Dr. Yoga dalam NMT LEAP memperkuat perspektif kepemimpinan yang adaptif, berbasis data, kolaboratif, dan berorientasi pada dampak. Bagi Program Studi Sistem Informasi, pembelajaran tersebut relevan untuk pengembangan kurikulum yang responsif terhadap AI dan kebutuhan dunia kerja, penguatan asesmen berbasis capaian, pengembangan riset kolaboratif, serta penerapan teknologi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Pada tingkat institusi, pengalaman ini dapat mendukung pengambilan keputusan yang lebih strategis dalam menjaga mutu akademik, ketahanan finansial, jejaring global, dan keberlanjutan universitas.
Keterlibatan dalam NMT LEAP 2026 memperluas jejaring Soegijapranata Catholic University dengan pimpinan perguruan tinggi dari berbagai daerah. Jejaring ini dapat menjadi dasar bagi kolaborasi pada bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pertukaran praktik baik, serta pengembangan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan. Partisipasi Dr. Yoga dalam NMT LEAP 2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat peran Program Studi Sistem Informasi dan Soegijapranata Catholic University dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang berkualitas, berkelanjutan, dan siap menghadapi masa depan.


